Jumat, 27 Maret 2015

JURNAL PI

JURNAL PI PENGARUH CELEBRITY ENDORSER, BRAND PERSONALITY DAN BRAND ASSOCIATION TERHADAP ITENSITAS PEMBELIAN
(Studi pada Iklan Yamaha Jupiter MX Versi Valentino Rossi)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Di jaman era globalisasi seperti sekarang persaingan dalam memasarkan suatu produk semakin tinggi, para perusahaan berlomba-lomba untuk mempertahankan pangsa pasar dengan berbagai cara seperti berusaha memberikan informasi mengenai produk yang mereka produksi dengan cara advertising, personal selling, public relations, direct marketing,  menciptakan produk yang dapat menarik perhatian konsumen, dengan inovasi baru dan harga murah, atau mungkin dengan kualitas yang lebih baik namun harga lebih tinggi, dan menggunakan jasa selebriti sebagai endorser.
Agar produk yang dipasarkan melalui media iklan memiliki daya tarik bagi para calon pembeli, maka perusahaan memerlukan dukungan tokoh yang terkenal dimasyarakat untuk dijadikan bintang iklan untuk memberikan informasi dan penyampaian pesan terhadap produk perusahaan. Dengan menggunakan celebrity sebagai talent pemasaran produk diharapkan akan mempengaruhi sikap atau perilaku konsumen dan memberikan dampak yang besar bagi kenaikan penjualan produk perusahaan.
Dengan menggunakan celebrity endorser, perusahaan tersebut dapat melakukan perbandingan atau perbedaan dengan produk pesaing yang ada di pasar. Dengan melakukan perbandingan produk akan digunakan konsumen untuk memilih berbagai macam produk yang ditawarkan produsen.  Cara lain untuk menekan basis pembeda atau perbandingan adalah dengan brand association. Menurut Darmadi, dkk (2001:4) brand association adalah mencerminkan pencitraan suatu merek terhadap suatu kesan tertentu dalam kaitannya dengan kebiasaan, gaya hidup, manfaat, atribut produk, geografis, harga, pesaing, dan lain lain. Pengertian brand association menurut Aeker (1996:160) adalah segala hal yang berkaitan dengan ingatan merek. Asosiasi itu tidak hanya eksis tetapi memiliki suatu tingkat kekuatan. Keterkaitan pada suatu merek akan lebih kuat apabila dilandasi pada banyak pengalaman atau penampakan untuk mengkomunikasikannya. Berbagai asosiasi yang diingat konsumen dapat dirangkai sehingga membentuk citra tentang merek atau brand image di dalam benak konsumen.
Selain itu untuk membedakan produk yang dihasilkan dari produk pesaing, perusahaan juga dapat melakukan tambahan-tambahan nilai-nilai personality atau brand dpersonality pada masing-masing merek. Pengertian brand personality menurut Kotler & Keller (2006:172) adalah sebagai berikut: brand personality as the specific mix of human traits that may be attributed to a particular brand. Menurut Kotler & Amstrong (2006:140), brand personality yaitu suatu gabungan dari sifat manusia yang dapat diterapkan pada suatu merek. Sedangkan menurut Kapoor (2005:1) brand personality means positioning your brand, its important to treat it like a human being with specific characteristics. It will come alive for the comsumer and endear it self to them. Dari berbagai asosiasi yang terbentuk tersebut akan membantu terciptanya brand image yang baik dan kuat, yang pada akhirnya akan mempengaruhi konsumen dalam keputusannya untuk membeli dan mengkonsumsi sebuah produk (Rangkuti, 2004).
Kini semakin banyaknya perusahaan atau produsen yang menggunakan selebriti sebagai endorser, PT. Yamaha Indonesia Motor Manufacturing yang merupakan salah satu produsen motor terbesar menggunakan pembalap dunia Valentino Rossi sebagai celebrity endorser. Yamaha dalam memilih endorser adalah berdasarkan karakter yang kuat dan tidak terkena isu-isu yang negative. Sehingga, jika Yamaha ingin memperkenalkan dan memberikan pemaparan produk, konsumen bisa yakin dan percaya.
Dengan menggunakan Valentino Rossi yang memiliki julukan “si jawara MotoGP” sebagai celebrity endorser diharapkan akan membangun brand association, dan membangun ekuitas merek Yamaha dalam jangka panjang melalui pendekatan beriklan dengan gaya lucu dan menghibur. Valentino Rossi juga telah lama resmi menggunakan tagline “Semakin di Depan” pada kostum dan pada motor Yamaha YZR-M1 yang ia kendarai. Tagline tersebut pun kini sudah melekat dan kental dimasyarakat.
Perusahaan berharap dengan memberikan informasi kepada calon konsumen tentang brand association, brand personality, dan product characteristic melalui media iklan dengan menggunakan celebrity endorser yang banyak dikenal masyarakat luas dan dipandang memiliki citra yang baik ini diharapkan dapat mempengaruhi minat beli konsumen. Harapan itupun terbukti di luar sengitnya persaingan dengan competitor, sepeninggal sang legendaris market share Yamaha pelan-pelan sempat turun. Namun sekarang diakui atau tidak Valentino Rossi telah memberikan pengaruh yang luar biasa. Iconnya begitu kuat di tanah air. Valentino Rossi berhasil membuat Yamaha semakin di depan. Sebelumnya market share Yamaha sempat menurun sebesar 32% dan tahun ini Yamaha mengalami kenaikan sebesar 36%. (www.marketing.co.id/valentino-rossi-come-back-yamaha-semakin-di-depan/)
Melihat fenomena tersebut pada penelitian ini peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian mengenai Analisis Pengaruh Celebrity Endorser, Brand Association, Brand Personality, dan Product Characteristic dalam menciptakan Intensi membeli Produk Motor Yamaha, yang merupakan studi pada iklan Yamaha versi Valentino Rossi.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan empat persoalan sebagai berikut:
1.       Apakah Celebrity Endorser berpengaruh positif terhadap intense membeli masyarakat/konsumen?
2.       Apakah Brand Association berpengaruh positif terhadap intense membeli konsumen?
3.       Apakah Brand Personality berpengaruh positif terhadap intense membeli konsumen?

1.3 Batasan Masalah
            Masalah yang diangkat dalam penelitian ilmiah ini terlalu luas jika diteliti secara menyeluruh. Maka dari itu agar masalah tidak melebar peneliti hanya meniliti apakah ada dampak yang positif dari penggunaan Celebrity Endorser, Brand Association, dan Brand Personality terhadap intensi pembelian konsumen.

1.4 Tujuan Penelitian
1.       Untuk mengetahui apakah Celebrity Endorser berpengaruh terhadap intensi pembelian konsumen.
2.       Untuk mengetahui apakah Brand Association berpengaruh positif terhadap intensi pembelian konsumen
3.       Untuk mengetahui apakah Brand Personality berpengaruh positif terhadap intensi pembelian konsumen

BAB IITelaah Pustaka

2.1 Intensi Membeli
Mowen and Minor (2002) mendefinisikan intense membeli merupakan intense perilaku yang berkaitan dengan keinginan konsumen untuk berperilaku menurut cara tertentu guna memiliki, membuang, dan menggunakan produk. Menurut Howard dan Sheth (Tiryigolu &Elbeck, 2008) mendefinisikan intense membeli sebagai kemungkinan seorang konsumen berencana membeli produk tertentu pada jangka waktu tertentu dan hal itu terjadi setelah konsumen menyimpan informasi yang relevan untuk menentukan keputusan membeli. Menurut Assael (Barata, 2007) intensi membeli merupakan tahap terakhir dari rangkaian proses keputusan pembelian konsumen. Proses ini akan dimulai dari munculnyakebutuhan akan suatu produk, dilanjutkan dengan pemrosesan informasi oleh konsumen, selanjutnya konsumen akan mengevaluasi produk tersebut. Hasil evaluasi inilah yang akhirnya memunculkan niat atau intensi untuk membeli.

2.2 Celebrtity Endorser
Menurut Terence A.Shimp (2002:455) endorser adalah pendukung iklan atau juga yang dikenal dengan bintang iklan yang mendukung produk yang di iklankan. Endorser dibagi menjadi dua jenis yaitu:
1.       Typical Person Endorser adalah memanfaatkan beberapa orang bukan selebritis untuk menyampaikan pesan mengenai suatu produk.
2.       Celebrity Endorser adalah orang-orang terkenal yang dapat mempengaruhi karena prestasinya.
Kedua jenis endorser diatas memiliki karakteristik dan atribut yang sama hanya dibedakan dalam penggunaan orang-orangnya sebagai endorser tokoh terkenal atau tidak.
Menurut Terence A. Shimp (2002:455) definisi celebrity endorser adalah memanfaatkan seorang artis, entertainer, atlet, dan public figure yang mana banyak diketahui oleh banyak orang untuk keberhasilan dibidangnya masing-masing dari bidang yang didukung. Sekarang ini kebanyakan perusahaan menggunakan selebriti disbanding orang biasa untuk mengiklankan produknya karena selebriti memiliki atribut kesohorannya, kecantikan, ketampanan, keberanian, talenta, kekuatan, keanggunan, dan daya tarik seksualnya sehingga sering mewakili daya tarik yang diinginkan perusahaan iklan. Untuk membuat selebriti efektif sebagi pendukung produk tertentu dalam suatu iklan maka harus memiliki hubungan yang berarti atau kecocokan antara celebrity dengan produk yang diiklankan oleh selebriti tersebut.
Lebih lanjut Terence A. Shimp (2002:468) terjemahan Revyani Syahrial dan Dyah Anikasari memberikan penjelasan mengenai atribut (performance) endorser antara lain:

Attractiveness (daya tarik)
Daya tarik tidak hanya berkaitan dengan menarik secara fisik saja, tetapi termasuk karakteristik yang luhur yang dipersiapkan oleh konsumen dalam diri endorser seperti: kemampuan intelektual, kepribadaian, gaya hidup, dan keahlian dalam bidang atletik. Konsep umum kemenarikan ini terdiri dari tiga gagasan yang berhubungan dengan kesamaan, keakraban, dan perasaan suka. Jadi seorang endorser dapat dikatakan atraktif oleh konsumen apabila dapat memberikan kesamaan dan keakraban (sense of similiarity and familiarity), dengan catatan konsumen tersebut benar-benar menyukai endorser tanpa memperhatikan apakah ia dan endorser memiliki kemiripan. Daya tarik yang ditemukan oleh konsumen dalam diri endorser merupakan bagian dari proses identifikasi: ialah pada saat konsumen mempersepsikan endorser menarik, konsumen akan memihak pada endorser, tetapi daya tarik tersebut lebih efektif apabila image dari endorser cocok dengan sifat dari produk yang di iklankan.

Credibility (kredibilitas)
Pengertian yang paling mendasar, kredibilitas mengarah pada kecenderungan untuk meyakini dan untuk mempercayai seseorang. Pada saat sumber informasi, seperti mempercayai seseorang. Pada saat sumber informasi,seperti seorang endorser dipersiapkan kredibilitasnya, maka sumber tersebut mengubah sikap melalui proses psikologis yang dinamakan internalisasi, dua hal penting dari kredibilitas endorser:
1.       keahlian (expertise)
keahlian mengarah pada pengetahuan, pengalaman, atau keahlian yang dimiliki oleh seorang endorser yang dihubungkan dengan topik yang dikomunikasikan. Keahlian adalah sesuatu yang dipersiapkan bukan merupakan fenomena yang absolute, sehingga yang terpenting adalah bagaimana endorser dapat dipersiapkan oleh konsumen.
2.       layak dan dipercaya (trust worthiness)
berhubungan dengan kejujuran, integritas, dan kepercayaan atas diri endorser. Layak atau tidaknya endorser untuk dipercaya tergantung pada persepsi konsumen atas motivasi sang endorser. Konsumen meyakini jika endorser dimotivasikan oleh pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sef-seving, maka akan menjadi kurang persuasif dari pada endorser yang dipersepsikan oleh konsumen. Menurut Sciffman dan Kanuk (2004:297) credibility of source (sumber terpercaya) dapat dilihat dari dua bagian yaitu:
a.  kepercayaan sumber secara informal seperti : teman, tetangga, dan pengaruh yang kuat terhadap perilaku menerima untuk melakukan transaksi produk yang dianjurkan.
b.   Kepercayaan sumber secara formal seperti : reputasinya, keahliannya, dan pengetahuannya. Kredibilitas dan kepercayaan merupakan sifat yang harus dimiliki seorang komunikator, karena apa yang disampaikannya kepada konsumen baik secara lisan maupun tulisan dianggap benar dan memang apa adanya.
Menurut Sciffman dan Kanuk (2004:340), dari semua karakteristik positif yang dimiliki oleh seorang selebriti yang terpenting adalah ketenaran, talenta, karisma. Kredibilitas juga merupakan hal yang sangat penting, yang dimaksudkan kedibilitas disini sejauh mana selebriti mengetahui produk atau jasa yang di iklankannya dan kelayakan untuk di percaya, seberapa jujur yang dikatakan oleh selebriti tersebut mengenai produk yang di iklankan.

2.3 Brand Association
Brand Association menurut Aaker (1996:160) adalah segala hal yang berkaitan dengan ingatan mengenai merek. Asosiasi itu tidak hanya eksis, namun juga memiliki suatu tingkat kekuatan. Keterkaitan terhadap suatu merek akan lebih kuat apabila dilandasi pada banyak pengalaman atau penampakan untuk mengkomunikasikannya. Berbagai asosiasi yang dilakukan yang diingat konsumen dapat dirangkai sehingga membentuk citra tentang merek atau brand image didalam benak konsumen. Secara sederhana, pengertian brand image adalah sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk dibenak konsumen. Konsumen yang terbiasa menggunakan merek tertentu cenderung memiliki konsistensi terhadap brand image atau hal ini disebut juga dengan kepriibadian merek (brand personality).
Citra merek merupakan persepsi pelanggan terhadap sebuah merek yang mercerminkan pada serangkaian asosiasi yang dikaitkan oleh pelanggan bersangkutan dengan nam merek tertentu dalam memorinya. Ketiga pakar pemasaran ini mengukur fungsi dan manfaat merek asosiasi melalui enam dimensi utama dalam buku Marketing Scales, Tjiptono, dkk (2004:239-242), yaitu:
1.       Jaminan
Janji yang merupakan kewajiban produsen atas produknya kepada konsumen, dimana para konsumen akan diberikan ganti rugi apabila ternyata produk tidak bisa berfungsi sebagaimana diharapkan.
2.       Identifikasi Pribadi
Merupakan semua pengetahuan yang dimiliki oleh konsumen dalam semua kesimpulan yang dibuat konsumen tentang objek, atribut, dan manfaat dari produk tersebut.
3.       Identifikasi Sosial
Tingkah laku konsumen yang dipengaruhi karena factor-faktor seperti keluarga, kelompok kecil, setrta peran dan status sosial konsumen.
4.       Status
Setiap produk yang membawa status yang memncerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat, maka sering kali konsumen memilih produk yang menunjukan statusnya dalam masyarakat.
5.       Kesediaan Menerima Perluasan Merek
Masyarakat menerima produk baru yang ditawarkan oleh perusahaan dengan menggunakan merek lama yang terdapat pada merek induknya.
6.       Kesediaan untuk Merekomendasikan Merek
Masyarakat bersedia menunjukan merek produk, yang dikonsumsinya ke orang lain.

2.4 Brand Personality
Seperti manusia, sebuah bisnis dengan kepribadian cenderung menjadi lebih patut dikenang dan lebih baik dibandingkan dengan bisnis lain yang lunak, bahkan lebih baik daripada keseluruhan atribut-atributnya. Seperti orang, merek dapat memiliki berbagai kepribadian, seperti menjadi professional dan konpeten (CNN dan McKinsey), kelas atas dan canggih (Jaguar dan Tiffany’s), dapat dipercaya dan murni (Hallmark dan John Deere), menarik dan berani (Porsche dan Benneton), atau aktif dan kuat (Levis’s dan Nike). David A. Aaker  (2013: 215).
Merupakan tahap perkembangan merek, yang berarti merek yang mencerminkan kepribadian (Rangkuti,2004). Fungsi merek bukan sekedar gambaran tentang produk, merek merupakan pribadi penggunanya. Sedangkan Aaker (1997) mendefinisikan brand personality sebagai “the set of human characteristics associated with a brand” yang berarti kumpulan dari karakteristik manusia yang dikaitkan terhadap sebuah merek dan menggambarkan bagaimana konsumen mengekspresikan dirinya (Belk, 1998).
Terdapat perbedaan antara pelanggan dan merek. Pelanggan merupakan subyek dan merek selalu dijadikan obyek sehingga selalu terdapat jarak antara pelanggan dan merek. Pada tahap ini perbedaan antara pelanggan dan merek semakin kecil karena di dalam merek telah ditampilkan karakteristik yang lebih personal sehingga pelanggan merasa lebih bersifat pribadi. Pada tahap ini personaliti yang dimiliki oleh pelanggan dan merek semakin didekatkan, sehingga nilai yang dimiliki oleh merek tersebut menjadi cermin diri pelanggannya.
Perusahaan harus mampu menciptakan personaliti untuk merek yang dimilikinya dan terus-menerus memperbaiki kesan personalitas merek agar tidak ketinggalan jaman. Agar tidak ketinggalan jaman, iklan yang ditampilkan harus selalu mengaitkan personality merek dengan karakteristik manusia dan nilai yang melekat pada manusia tersebut, sehingga merek ini tetap menjadi ekspresi diri, gaya hidup, status, semangat, dan keberhasilan.
Dalam penelitian yang dilakukan Aaker (1997) mengenai 5 dimensi dari personalitas merek, yaitu:
1.       Sincerity
2.       Excitement
3.       Competitor
4.       Sophistication
5.       Ruggedness.

Merek sebagai sebuah perusahaan
Iklan pada tahap ini memiliki identitas yang sangat kompleks dan lebih bersifat interaktif, sehingga pelanggan dapat dengan mudah menghubungi merek. Karena merek tersebut merupakan wakil perusahaan sehingga merek = perusahaan, semua direksi dan karyawan memiliki persepsi yang sama tentang merek yang dimilikinya.
Dalam membeli suatu produk konsumen akan mengarahkan pada fungsi dan manfaatnya (Kotler & Keller 2006). Konsumen akan memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan dan manfaat yang akan diperoleh. Karakteristik produk dari sisi inovasi merupakan factor lain dari karakteristik produk yang diperhatikan oleh konsumen. Seiring dengan perkembangan jaman maka trend ikut berganti. Jika tidak mengikuti trend maka produknya akan dianggap ketinggalan jaman dan sulit untuk merebut hati konsumen. Dalam penelitian ini inovasi yang dimaksud adalah inovasi dari segi rasa, yaitu dengan menciptakan berbagai varian rasa dalam satu produk.
Jadi, dalam menciptakan suatu produk, pemasar atau perusahaan harus memperhatikan karakteristik dari produk tersebut. Dengan menciptakan karakteristik produk yang unik dan berbeda dengan pesaing lain dapat mempengaruhi persepsi positif konsumen tentang produk tersebut. Karena karakteristik produk merupakan hal yang penting yang sangat diperhatikan oleh konsumen ketika hendak membeli, mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk (McNeal, 1992). Produk yang bagus serta berorientasi pada konsumen akan mendorong konsumen untuk melakukan pembelian atau konsumsi (Brown, 1998).

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Metodologi Penelitian
            Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu pengumpulan dari data sekunder dengan penelitian telaah pustaka dan pengumpulan data primer dengan observasi langsung dan melakukan penyebaran kuesioner.
3.2 Populasi dan Sampel
            Metode sampling yang digunakan adalah non probability sampling dengan teknik judgemental sampling dengan masyarakat Depok yang pernah melihat iklan Motor Yamaha versi Valentino Rossi. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 100 responden. Karena penelitian yang dilakukan dapat digolongkan sebagai TV, Radio, Print Advertising. Menurut Sugiyono (2001: 60) metode non probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsure atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.
3.3 Pengukuran Variabel
            Konsep yang akan diukur dalam penelitian ini adalah konsep Celebrity Endorser, Brand Association, Brand Personality, Product Characteristics dalam intense pembelian. Konsep – konsep tersebut dapat diukur pada aras pengukuran interval. Penelitian ini menggunakan aras interval karena peneliti ingin mengidentifikasi pengaruh celebrity endorser, brand association, dan brand personality terhadap intense pembelian motor Yamaha versi Valentino Rossi.
            Variabel adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008). Variable dalam penelitian ini terdiri atas:
Celebrity Endorser (X1)
                Seorang bintang iklan yang digunakan untuk mengkomunikasikan pesan pemasaran sebuah produk yang dipromosikan. Untuk mengukur celebrities endorser maka digunakan indikator yang diadopsi dari Shimp (2003) yaitu:
1.       Kredibilitas
2.       Daya Tarik
3.       Kecocokan
Brand Association (X2)
            Merupakan segala hal dan kesan yang dapat diingat konsumen sebagai pencitraan akan merek lewat atribut yang ada di dalam merek itu sendiri. Atribut produk merupakan dimensi yang terlihat secara nyata pada sebuah merek produk. Untuk mengukur brand association di adopsi indikator dari Durianto (2004) yaitu:
1.       Harga
2.       Manfaat dari produk
3.       Kemampuan bersaing
Brand Personality (X3)
            Brand Personality adalah karakter psikologis unik yang di terapkan dalam merek sehingga tercipta kedekatan yang bersifat pribadi antara pelanggan dengan merek yang digunakannya. Terdapat lima indikator brand personality yang dikemukakan oleh Aaker (1997):
1.       Sincerity (ketulusan)
2.       Excitement (semangat)
3.       Competence (kemampuan)
4.       Sophistication (pengalaman dalam soal-soal duniawi)
5.       Ruggedness (ketangguhan)
Intensi Membeli
            Intensi pembelian adalah kemungkinan subyektif untuk melakukan suatu perilaku tertentu. Indikator yang digunakan untuk mengukur intensi pembelian (Assael, 2002):
1.       Sikap terhadap perilaku pembeli
2.       Norma subjektif atas perilaku membeli
3.       Kontrol perilaku membeli
Teknik Analisis
            Teknik pengolahan dan analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis regresi berganda, dengan penyelesaian menggunakan program SPSS versi 20. Teknik analisis regresi berganda digunakan untuk meramalkan bagaimana keadaan variabel dependen (terikat) bila dua atau lebih variabel independen (bebas) sebagai faktor predictor dimanipulasi. Variabel independen dari regresi berganda harus lebih dari dua (Sugiyono, 2001).
            Dalam penelitian ini analisis regresi berganda digunakan untuk mengidentifikasikan pengaruh dari masing-masing faktor yaitu Celebrity Endorser, dan Brand Personality terhadap intense membeli. Model persamaan regresi berganda, berdasarkan pada gambar 2, yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Y = a +  +  +  + e
Keterangan :
Y         = Intensi Pembelian
X1           = Celebrity Endorser
X2                 = Brand Association
X3                 = Brand Personality
a          = Konstanta
b1         = Koefisien Regresi Variabel celebrity endorser
b2         = Koefisien Regresi Variabel brand association
b3         = Koefisien Regresi Variabel brand personality
e          = Error term
DAFTAR PUSTAKA

Aaker, Jennifer L. (1997). Dimensions of Brand Personality. Journal of Marketing Research, 34(8), 347 - 356.
Anoraga, Pandji. (2000). Manajemen Bisnis . Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Assael, H. (2002). Consumers Behavior and Marketing Action. (3rd ed.). Boston Massachusset AS: Kent Publishing Company.
Bansal, H. S., Taylor S.F. & St. James, Y. (2005). Migrating to New Service Providers: Toward a Unifying Framework of Consumers’ Switching
Behaviors. Journal of the Academy of Marketing Science, 33(1), 96- 115.
Bauer, H., Mader, R., & Keller, T. (2001). An Investigation of The Brand Personality Scale. http.//marketing.byu.edu/ams/beuer-maderkeller.htm. Diunduh Februari 2010.
Belk, Russel W. (1988). Prossessions and The Extended Self. Journal of Marketing Research, 15(9), 139-168.
Brown, K. D. (1998). Design in the British Toy Industry since 1945. Journal of Design History, 11(4), 323 - 333.

Durianto, Darmadi, Sugiarto, & Sitinjak, Tony. (2001). Strategi Menaklukkan Pasar Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Merek. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar